Tema yang diangkat adalah masalah yang banyak diperbincangkan masyarakat.
Kemasan yang berbeda dan menghadirkan tema aktual. Itulah janji yang dilontarkan manajemen Metro TV ketika memperkenalkan program bertajuk Padamu Negeri. Acara bincang-bincang (talkshow) tersebut hadir di layar stasiun televisi ini setiap Kamis pukul 20.05 WIB.
Menurut Hari Riyadi, produser Padamu Negeri, yang menjadi daya tarik tontonan ini adalah keterlibatan sekitar 60 peserta survei interaktif. ”Melalui survei interaktif itulah isu-isu aktual bisa kita sembunyikan, sehingga meski ditayangkan satu minggu kemudian, tema yang diangkat tetap menarik untuk disaksikan pemirsa di rumah,” ujar Hari.
Bagi Metro TV, program survei interaktif yang menggunakan key pad untuk mendeteksi pilihan peserta survei, memang bukan yang pertama. Beberapa tahun lalu, mereka sempat menghadirkan 160 orang untuk melakukan survei interaktif dalam program Tes The Nation.
”Meski sejujurnya hasil survei interaktif tersebut bukan hasil yang memuaskan, namun interaktif dengan peserta survei justru menjadi kekuatan progam talkshow ini,” paparnya. Jika ditelisik lebih dalam, lanjut dia, hasil survei tersebut memang tidak bisa dijadikan opini masyarakat yang sesungguhnya. Apalagi jika ingin mewakili nama Indonesia, tentu sangatlah jauh.
Namun paling tidak, dari kelompok masyarakat yang dipilih dan disesuaikan dengan tema bahasan, hasil survei mampu memberi sedikit gambaran opini masyarakat. ”Di situlah menariknya, survei 60 orang itu hanya trigger untuk mendapatkan sebuah tayangan yang tetap menarik,” tegas Hari.
Di luar 60 peserta yang datang dari berbagai kelompok masyarakat, Padamu Negeri juga menyertakan dua sampai tiga orang yang dianggap kapabel untuk mengomentari hasil survei dan tema yang diangkat.
”Memilih orang yang pantas ini kadang-kadang cukup merepotkan, apalagi kalau isunya agak sensitif. Biasanya orang yang kita harapkan hadir untuk memberi penjelasan atas isu tersebut justru ketakutan sendiri,” kata Hari lagi.
Pemirsa yang menilai
Padamu Negeri memang hampir selalu mampu mendatangkan 60 peserta yang terdiri dari tiga kelompok. Mereka didatangkan dari kelompok masyarakat yang berbeda. Biasanya, kelompok tersebut cukup mewakili tema ataupun isu yang diangkat setiap episodenya.
Namun, kata dia, karena shooting dilakukan taping (rekaman), maka tim program harus mampu mengantisipasi tema-tema yang diangkat agar tetap menarik, mengingat penayangannya baru dilakukan satu minggu kemudian.
Menurut Didik Suryantoro, penulis naskah Padamu Negeri, program ini tidak ingin memberi sebuah solusi dalam setiap tema yang diangkat. ”Semuanya diserahkan kembali pada pemirsa sendiri,” katanya.
Ia juga mengatakan bahwa salah satu tantangan dalam mengemas program ini adalah kesulitan mendatangkan sumber yang berkompeten (yang diundang). Ia mencontohkan tayangan Padamu Negeri pada Kamis (26/6) lalu yang mengangkat seputar Wajah Muram Kejaksaan. ”Orang orang yang dianggap kompeten untuk bicara soal kejaksaan dari kejaksaan sendiri justru tidak menyisihkan waktunya untuk datang,” ujarnya.
Sebagi penggantinya, tim Padamu Negeri mendatangkan Rudi Satriya, pakar hukum dari Universitas Indonesia dan Febri Diansyah dari Indonesian Corruption Watch (ICW). Secara tayangan, menurut Didik, kehadiran kedua sumber ini tetap menarik, karena mereka memang cukup menguasai tema yang diangkat.
”Saya melihat dua orang ini kalau ngomong berapi-api, sehingga secara tayangan cukup bisa membawa pemirsa untuk tetap mengikuti acara ini,” katanya. Sehingga, lanjut dia, meskipun tanpa kehadiran sumber dari kejaksaan, secara keseluruhan program ini tetap memiliki nilai jual. Karena memang isu kejaksaan tetap mempunyai selling point tersendiri.
Program bincang-bincang ini semakin menarik, menurut Didik, karena kehadiran Fifi Aleyda Yahya sebagai pembawa acara (host. ”Tema apa pun yang diangkat Padamu Negeri, Fifi hampir selalu mampu mengimbangi para nara sumber.”
(ruz )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=339765&kat_id=383