Feed on
Posts
Comments

Partai Bicara?

Para pemirsa yang budiman, ada yang perlu kami sampaikan. Mulai oktober ini anda tidak akan bertemu kembali dengan program Padamu Negeri. Tidak lain akan segera diganti dengan program Partai Bicara. Sebagai konsekuensi pilihan khittah Metro Tv sebagai The Election Channel. Maka dengan sedikit improvisasi format, runddown dan kemungkinan host, anda akan berjumpa dengan bagaimana representasi partai-partai politik kita berwacana tentang isu-isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ralph Tampubolon dan Nina Melinda akan saling bergantian memandu Partai Bicara.

Kalau anda sayang, setuju dengan misi kami untuk terus-menerus merawat kultur demokrasi dan menghela perluasan ruang publik, sudilah menyampaikan kritik untuk perbaikan program ini.

Salam dari Kedoya,

Tema yang diangkat adalah masalah yang banyak diperbincangkan masyarakat.

Kemasan yang berbeda dan menghadirkan tema aktual. Itulah janji yang dilontarkan manajemen Metro TV ketika memperkenalkan program bertajuk Padamu Negeri. Acara bincang-bincang (talkshow) tersebut hadir di layar stasiun televisi ini setiap Kamis pukul 20.05 WIB.

Menurut Hari Riyadi, produser Padamu Negeri, yang menjadi daya tarik tontonan ini adalah keterlibatan sekitar 60 peserta survei interaktif. ”Melalui survei interaktif itulah isu-isu aktual bisa kita sembunyikan, sehingga meski ditayangkan satu minggu kemudian, tema yang diangkat tetap menarik untuk disaksikan pemirsa di rumah,” ujar Hari.

Bagi Metro TV, program survei interaktif yang menggunakan key pad untuk mendeteksi pilihan peserta survei, memang bukan yang pertama. Beberapa tahun lalu, mereka sempat menghadirkan 160 orang untuk melakukan survei interaktif dalam program Tes The Nation.

”Meski sejujurnya hasil survei interaktif tersebut bukan hasil yang memuaskan, namun interaktif dengan peserta survei justru menjadi kekuatan progam talkshow ini,” paparnya. Jika ditelisik lebih dalam, lanjut dia, hasil survei tersebut memang tidak bisa dijadikan opini masyarakat yang sesungguhnya. Apalagi jika ingin mewakili nama Indonesia, tentu sangatlah jauh.

Namun paling tidak, dari kelompok masyarakat yang dipilih dan disesuaikan dengan tema bahasan, hasil survei mampu memberi sedikit gambaran opini masyarakat. ”Di situlah menariknya, survei 60 orang itu hanya trigger untuk mendapatkan sebuah tayangan yang tetap menarik,” tegas Hari.

Di luar 60 peserta yang datang dari berbagai kelompok masyarakat, Padamu Negeri juga menyertakan dua sampai tiga orang yang dianggap kapabel untuk mengomentari hasil survei dan tema yang diangkat.

”Memilih orang yang pantas ini kadang-kadang cukup merepotkan, apalagi kalau isunya agak sensitif. Biasanya orang yang kita harapkan hadir untuk memberi penjelasan atas isu tersebut justru ketakutan sendiri,” kata Hari lagi.

Pemirsa yang menilai
Padamu Negeri memang hampir selalu mampu mendatangkan 60 peserta yang terdiri dari tiga kelompok. Mereka didatangkan dari kelompok masyarakat yang berbeda. Biasanya, kelompok tersebut cukup mewakili tema ataupun isu yang diangkat setiap episodenya.

Namun, kata dia, karena shooting dilakukan taping (rekaman), maka tim program harus mampu mengantisipasi tema-tema yang diangkat agar tetap menarik, mengingat penayangannya baru dilakukan satu minggu kemudian.

Menurut Didik Suryantoro, penulis naskah Padamu Negeri, program ini tidak ingin memberi sebuah solusi dalam setiap tema yang diangkat. ”Semuanya diserahkan kembali pada pemirsa sendiri,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa salah satu tantangan dalam mengemas program ini adalah kesulitan mendatangkan sumber yang berkompeten (yang diundang). Ia mencontohkan tayangan Padamu Negeri pada Kamis (26/6) lalu yang mengangkat seputar Wajah Muram Kejaksaan. ”Orang orang yang dianggap kompeten untuk bicara soal kejaksaan dari kejaksaan sendiri justru tidak menyisihkan waktunya untuk datang,” ujarnya.

Sebagi penggantinya, tim Padamu Negeri mendatangkan Rudi Satriya, pakar hukum dari Universitas Indonesia dan Febri Diansyah dari Indonesian Corruption Watch (ICW). Secara tayangan, menurut Didik, kehadiran kedua sumber ini tetap menarik, karena mereka memang cukup menguasai tema yang diangkat.

”Saya melihat dua orang ini kalau ngomong berapi-api, sehingga secara tayangan cukup bisa membawa pemirsa untuk tetap mengikuti acara ini,” katanya. Sehingga, lanjut dia, meskipun tanpa kehadiran sumber dari kejaksaan, secara keseluruhan program ini tetap memiliki nilai jual. Karena memang isu kejaksaan tetap mempunyai selling point tersendiri.

Program bincang-bincang ini semakin menarik, menurut Didik, karena kehadiran Fifi Aleyda Yahya sebagai pembawa acara (host. ”Tema apa pun yang diangkat Padamu Negeri, Fifi hampir selalu mampu mengimbangi para nara sumber.”
(ruz )

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=339765&kat_id=383

BACK TO BASIC!

Dear Pemirsa PADAMU NEGERI yang budiman,
terima kasih kami sampaikan atas kesetiaan anda berpartisipasi dalam survey interaktif ini, selama kepentingan publik masih harus selalu diperjuangan di republik ini, sejauh itu pula tayangan PADAMU NEGERI akan menemukan relevansi sosialnya.

Ada beberapa hal yang pantas kami sampaikan. Bahwa seperti yang anda lihat dalam 3 bulan terakhir ini. Konsep PADAMU NEGERI kembali seperti semula. Minus band pengiring yang membawakan lagu-lagu yang segaris dengan tema yang diangkat. Untuk itu terima kasih kami sampaikan pada Mahesa Band yang telah bekerja sama sepanjang perubahan setting panggung PADAMU NEGERI yang baru.

Perubahan lainnya adalah dengan kehadiran Didik Suryantoro sebagai penulis naskah. Pria kelahiran Madiun, yang sebelumnya lebih banyak menulis naskah untuk program Healthy Life, konseptor Zona 80, dan penyelia naskah program Smart Drive ini adalah lulusan jurusan jurnalistik di IISIP- Jakarta.

Kritik, saran anda kami tunggu untuk perbaikan mutu program secara terus-menerus. Mimpi akan meluasnya ruang publik dan merawat kultur demokrasi seperti tagline blog ini semoga tidak jauh panggang dari api.

Per 1 Juli 2008, program PADAMU NEGERI on air tiap selasa pukul.20.05 WIB

Akhirnya, apapun itu, bagaimanapun itu: PADAMU NEGERI, JIWA RAGA KAMI.

Erwida Maulia ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Mon, 05/05/2008 11:24 AM  |  National

Noted Koranic scientist Quraish Shihab has written a book to counter the “false accusations against Islam” contained in the controversial movie Fitna, released recently by Dutch politician Geert Wilders.

Ayat-Ayat Fitna, Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka (Fitna Verses, a Tiny Bit of Islamic Civility in the Middle of Prejudice), launched in Jakarta on Sunday, refutes Wilders’ misleading interpretations of the five Koranic verses quoted in the film.

In the 90-page book, Quraish clarifies each of the verses, reflecting the interpretations to which Muslims worldwide generally adhere.

Wilders’ short film features footage of the September 11 attacks and the Madrid train bombing, preceded by a recitation of Verse 60 of the Koran’s Sura Al-Anfal (8).

The verse is translated in Fitna as: “Prepare for them whatever force and cavalry ye are able of gathering, to strike terror into the hearts of the enemies of Allah and your enemies.”

The implication is the Koran instructs Muslims to commit acts of terrorism.

Quraish said Wilders had distorted the meaning of the verse by excluding the five preceding verses (Sura 8:55 to 8:59), which put the excerpt in context.

The verse actually refers to attitudes when facing battle, not daily life, said the former rector of Jakarta’s Syarif Hidayatullah State Institute of Islamic Studies, now the State Islamic University.

“Strike terror”, he said, was intended to prevent enemies in a battle from attacking, which could therefore prevent the battle itself, as battle was not always inevitable when defending oneself or one’s territory, religion or nation.

Such self-defense in battle, Quraish said, is different from terrorism.

He said the word “enemies” referred to those who violated treaties, hence provoking war.

A state of war and the betrayal of a pact also form the context of Verse 4 in the Sura Muhammad (47), which Wilders “abruptly cut” and “wrongly translated”, Quraish said.

To clarify the meaning of Verse 39 in Al-Anfal, the final sura quoted in the film, the prominent Koranic exegete said warfare was the very last option Muslims could take, “should they find no other way to avoid oppression or ensure security”.

Even if Muslims must become involved in a war, he added, they must obey rules such as not attacking women or children, not cutting down trees and not destroying the environment.

Quraish also gave elucidations of the other two verses quoted, 56 and 89 in Sura An-Nisaa (4), which Wilders used as examples of the Koran’s anti-Semitism and instructions to kill non-Muslims.

Quraish said any interpretation of the verses could not separate them from those that preceded and followed them if their true context and meaning were to be understood.

He said Fitna (an Arabic term for “false accusation”) was an appropriate title for the movie, as it “describes the real intention of its maker, that is, slandering Islam and its holy book”.

In the last chapter of his book, Quraish calls on Muslims to deal with Fitna firmly and patiently by refraining from “anything detrimental to Islam or to Muslims themselves”.

He said it was normal for Muslims to protest against the movie and “break off relations or partnerships with those who support the harassment”.

He advised Muslims not to make general assumptions about innocent people or groups and to keep treating everyone fairly.

Quraish distributed free copies of his book in several mosques across Jakarta.

It is also available for download at http://www.lentera-hati.com/katalog/Ayat_Ayat_Fitna_.pdf

Jumat, 11-04-2008 08:51:58 oleh: Anwariansyah
Kanal: Peristiwa

Kamis malam tanggal 10 April 2008 Metro TV menayangkan program Survey Interaktif Padamu Negeri dengan judul Ada Apa Dengan Film Fitna ?  Acara yang dipandu pembawa acara Fifi Aleyda Yahya dengan nara sumber Tino Saroenggolo, Pengurus Masyarakat Film Indonesia & Prof. Dr. Komaruddin Hidayat Rektor UIN Jakarta ini cukup menarik untuk dicermati.

Acara ini juga dihadiri oleh peserta / audien yang berperan sebagai peserta jajak pendapat interaktif. Audien yang dibagi atas 3 kelompok ini terdiri dari mahasiswa seni teater & film, peminat film, dan mahasiswa / aktivis Islam.
Ketika pertanyaan jajak pendapat ditanyakan kepada audien : Bagaimana pendapatnya setelah menonton film Fitna ? Ternyata sebagian besar audien menyatakan tidak terpengaruh. Bahkan dari Kelompok A 100 % anggotanya menyatakan tidak terpengaruh, sedikit lebih besar dari Kelompok B sebesar 95 % dan Kelompok C 75 %. Lebih menarik lagi ketika audien ditanya : Bagaimana sikap audien terhadap film Fitna ? Ternyata sebagian besar audien: menyesalkan tapi tidak perlu membredelnya. 100 % dari Kelompok A menyatakan seperti ini, Kelompok B 85 % dan Kelompok C 55 %.

Ketika salah seorang wakil salah satu kelompok ditanya, kenapa memberikan jawaban “tidak terpengaruh” untuk pertanyaan pertama, dia menyatakan, “film Fitna sangat murahan dan kita sebagai umat Islam tidak perlu terprovokasi”. Dan ketika ditanya kenapa memberikan jawaban “menyesalkan tapi tidak perlu dibredel” untuk pertanyaan kedua, salah seorang wakil kelompok menyatakan, “film ini bisa menjadi bahan untuk introspeksi diri bagi umat Islam”.
Memang hasil jajak pendapat ini tidak bisa dikatakan mewakili umat Islam, tapi bisa dikatakan mewakili mahasiswa kita. Kayaknya sikap mereka ini bertolak belakang banget dengan yang diharapkan Wilders sendiri ? Atau memang demam Fitna tidak sekeras Ayat-ayat Cinta ?

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7624

MENJELANG Syuting "Padamu Negeri" Metro TV--Jumat, 4 April 2008
AKU [paling kiri], Malja Abror, Husna, Firdaus, Anwar, Saidiman, Ginanjar, [baju biru...lupa!], [yg di belakang nggak keliatan...lupa!], Ariza, [anak Formaci juga...lupa!], …



Aku dan Pak Komeng [Prof. Komaruddin Hidayat "UIN Syarif Hidayatullah"]


FOTO-foto di postingan kali ini itu kuambil saat sebelum syuting di Metro TV untuk acara Padamu Negeri, Jumat (4/4) pukul 4 sore bersama kawan-kawan dari Jaringan Islam Liberal. Tema Padamu Negeri saat itu adalah mengenai ‘ada apa dengan film Fitna‘.

Aku bisa ikut syuting adalah karena ajakan Firdaus yang mendadak usai salat jumat di Mesjid Al-Hidayah Kebayoran Lama Selatan. So, ajakannya kusanggupi. Tapi sebelum berangkat aku nge-SMS si Ayyi mau nggak dia ikut, apalagi dia anak UIN yang notabene banyak kawan-kawan JIL berasal dari UIN juga. Namun, Ayyi nggak bisa ikut sebab mesti ke kampus siang itu juga bada Jumat-an.

Firdaus dan aku, dijemput di Jalan Bungur pake mobil Metro TV. Sementara itu, di tengah perjalanan meluncur ke Metro TV di Kedoya, Ayyi yang kutelepon mengatakan bahwa ia melihatku ketika menaiki mobil putihnya Metro TV.


Saidiman melihat bahwa rekan-rekan JIL udah ada yang pada datang!

Sampai di Metro TV, ternyata salah satu koordinator acaranya yang menjabar sebagai Asisten Produser (AP) mengatakan bahwa kami datang sangat awal dari rencana syuting pukul 4 sore. Kami datang “terlalu rajin” pada pukul 2-kurang. Hehe…ya sudah deh, kami nunggu sambil bete. Untung kami udah dikasih makan siang ama Metro TV.


Makan siang, Us! Buka’in ya?


Duuh, be-te nih!


[Malja & Husna] Tetap semangat dan optimis!


Daus dan Malja ngobrol ama kawan dari Komunitas Bunga Matahari!


Anwar dan aku!


Aku juga be-te, iseng ngliatin patung telanjang juga ah!

Foto-foto!!!


Piramid


Santai aja, jangan serius


Cluster di Kelompok A emang gokil, JIL gabung ama kawan-kawan dari IKJ Film


Aku nyobain tombol jawaban survey


Mas, mas, Lo ngomong apaan sih, hehe…


Di belakang Fifi, Pak Komeng [Prof. Komaruddin Hidayat] malah sibuk arisan!


Abis syuting foto bareng ama kawan-kawan IKJ dan Pak Komeng.

Foto-foto yang lain ada pada Facebook saya di link ini.

Untuk Fifi Aleyda Yahya

Salut! Anda telah memandu acara Padamu Negeri dengan tema yang sensitif
”Fitna” di Metro TV hari Kamis, malam tanggal 10 April 2008. Salut juga
kepada para peserta dan nara sumber. Hampir semuanya mengajak pemirsa untuk
menahan diri, tidak terprovokasi melakukan kekerasan, dan bahkan mereka
tidak setuju dengan pembreidelan film ini. Sekalipun ada juga satu dua
peserta yang meminta akan Geert Wilders (GW) dihukum, dan ada seorang
peserta yang menyebut GW sebagai orang gila (ini kesesatan logika,
argumenteum ad hominem, bukan karyanya dikritisi tetapi orangnya yang
diserang). Saya tidak tahu peserta kuis Padamu Negeri mewakili minoritas
atau mayoritas Islam? Kalau ini mewakili nayoritas, M. Nuh, Menkonminfo
tidak perlu memblokir situs-situs yang menayangkan Fitna.

Yang paling menarik tentu saja pendapat-pendapat Prof Dr Komarudin Hidayat,
rektor UIN. Salah satu kata yang dia ucapkan adalah ”interospeksi” (agar
umat Islam melakukan interopeksi terkait dengan film ini). Ini adalah satu
kata yang teramat mahal, mengingat tidak satupun pemimpin Islam, seperti
misalnya Din Samsyudin, Hashim Muzadi, Hidayat Nur Wahid, mengucapkan kata
ini. Mereka sibuk menuntut ini-itu: penghukuman atas GW, boikot atas
produk Belanda. Mereka ini tahunya hanya menuntut – sepertinya mengajarkan
umatnya untuk memuaskan pemusatan pada ego pribadi (self centeredness).
Prof Dr Komarudin Hidayat mengajak umat Islam interospeksi: Apakah mereka
tidak melakukan hal yang sama dengan GE? Setiap jumat berkotbah menyebut
umat agama lain sebagai penyembah berhala, orang-orang kafir yang patut
dilenyapkan, dan akan masuk neraka jahanam? Sekali lagi salut kepada Prof Dr
Komarudin Hidayat.

Namun menurut saya ada satu pertanyaan yang tidak anda ajukan dalam acara
ini. Yaitu, bagaimana sikap umat Islam atas ”Ayat-Ayat Jihad” yang
menganjurkan kebencian dan kekerasan terhadap orang-orang Non-Muslim?
Ayat-ayat Jihad ini tidak sedikit jumlahnya. Menurut Sam Harris dalam buku
”The End of Faith” ”Ayat-Ayat Jihad” ada sekitar 60 ayat. Menurut Misrawi
Effendi, ”Ayat-Ayat Jihad”sekitar 170. Menurut web site Faithfreedom.org
(sekarang diblokir oleh M. Nuh) ”Ayat-Ayat Jihad” ada sekitar 270.

Saya setuju bahwa dialog peradaban (sebuah kata hebat) perlu ditingkatkan.
Tetapi dialog semacam itu tidak ada gunanya bila umat Muslim tidak
memiliki sikap yang tegas terhadap ”Ayat-Ayat Jihad”. Dialog semacam itu
tidak lebih dari sekedar kerja kehumasan.

Sekedar tambahan info untuk anda, di India, tepatnya Calcutta (sekarang
Kolkata) pada tahun 1985 seorang warga biasa, bukan politikus, bukan
seniman, mengajukan permohonan ke Pengadilan Tinggi Calcutta, agar menarik
Qur’an dari peredaran berdasakan ketentuan UUD India, yang dalam salah satu
pasalnya melarang pencetakan, penerbitan dan penyebaran buku-buku yang di
dalamnya mengandung hasutan untuk kebencian dan kekerasan. Orang ini, adalah
seorang pengungsi dari Bangladesh, tempat kelahirannya. Di sana dia melihat
orang-orang Muslim menindas orang-orang Hindu, dan para pelaku kekerasan ini
(menjarah harta, membunuh, menculik gadis-gadis Hindu untuk dikonversi
secara pakda) tampak sama sekali tidak terusik hati nuraninya. Dia merasa
heran apa yang menyebabkan hal ini? Lalu dia melakukan penelitian dan
menemukan akar-akarnya dalam Qur’an. Petisi ini memang ditolak oleh PT
India, tentu saja karena tidak ingin menimbulkan kerusuhan. Tahun
sebelumnya, 1984, seorang penduduk Kolkata yang lain sduah menririm surat
tentang masalah ini ke pemerintah Negara Bagian Bengala. Tetapi surat ini
tidak dihiraukan oleh pemerintah. (Kasus ini sudah dibukukan dengan judul ”
Calcutta Quran Petition”. Jika anda tertarik dapat di down load dari web
”Voice of India.”

Mungkin GW tidak tahu mengenai petisi ini. Dengan informasi tambahan ini,
saya hanya ingin mengatakan, GW mungkin sekali memang mau memetik keuntungan
politis dari ”Fitna” tetapi ”Ayat-Ayat Jihad” memang ada dan memiliki
pengaruh yang nyata. (Kalau tidak salah seorang peserta dari JIL juga
mengatakan hal ini).

Bersama ini saya kirimkan sebuah buku kecil dengan judul ”Ayat-Ayat Jihad”.
Pada bagian akhir buku ini penulisnya bertanya apakah mungkin membentuk
Islam-Without-Jihad?”

Sdr Fifi Aleyda Yahya, tolong sampaikan e-mail saya ini kepada Prof Dr
Komarudin Hidayat (karena saya tidak punya alamat emilnya). Dan bila mungkin
mohon Prof Dr Komarudin Hidayat memberi tanggapan atas e-mail saya.

Terima kasih dan sekali lagi Salut untuk anda dan Padamu Negeri.

Salam

Lili G. Somadikarta

Older Posts »